Rabu, 19 November 2014

LAPORAN ILMU UKUR TANAH II




LEMBAR PENGESAHAN


Laporan Praktikum Ilmu Ukur Tanah
Jurusan Teknik Sipil Politeknik Negeri Ujung Pandang

Disusun Oleh :
1.      Muh. Fachri Adam                         (412 13 001)
2.      Ramdhani Nur Saputra                  (412 13 012)
3.      Ulfah                                              (412 13 015)
4.      Diah Ayu Septriani                        (412 13 016)
5.      Hendrik Tapung                             (412 13 017)


Telah diperiksa dan disetujui oleh :


Pembimbing,                                                                Pembimbing,



Ir. Efraim Bara                                                           Hasmar Halim, ST,MT
NIP. 19620425 199103 1 002                                    NIP. 19670529 199003 1 002

Mengetahui,
Kepala Laboratorium Teknik Sipil


                                              Zulvyah Faisal, ST,MT
NIP. 19761129 200912 2 001

 



KATA PENGANTAR

Puji syukur kita panjatkan kehadirat Allah SWT, karena atas berkat rahmat dan hidayahNya-lah sehingga kami dapat menyelesaikan Laporan Laboratorium Ilmu Ukur Tanah ini demi memenuhi tuntutan akademik.

Kami menyadari bahwa hingga akhir penyusunan laporan ini tidak lepas dari berbagai hambatan dan tantangan, namun itu semua dapat teratasi dengan ketabahan, ketekunan, kesabaran dan kerja keras serta bimbingan dan petunjuk dari berbagai pihak. Sehingga kami merasa bersyukur dan tidak lupa kami ucapkan banyak terima kasih kepada para dosen pembimbing kami, serta teman-teman yang ikut memberikan sumbangsihnya demi menyelesaikan laporan ini.

Akhirnya kami menyadari bahwa,laporan praktikum inimasih jauh dari kesempurnaan, untuk itu kami mengharapkan kritikan dan saran dari segala pihak dalam penyempurnaan berikutnya..

Semoga Allah senantiasa memberikan rahmat-Nya untuk kita semua.
Amin.


Makassar,    Juni 2013



                                                                                            Tim Penyusun


DAFTAR ISI

Lembar Asistensi i
Lembar Pengesahan ii
Kata Pengantar iii
Daftar Isi iv

BAB I                         PENDAHULUAN............................................................................1
BAB II                        DASAR TEORI...............................................................................2
BAB II                       JOB 1 MEMBUAT GARIS LURUS DI LAPANGAN 9
JOB 2 MEMBUAT GARIS LURUS DAN MENGUKUR JARAK DENGAN RINTANGAN 19
JOB 3 PENGENALAN DAN PENGGUNAAN WATERPASS 30
JOB 4 MEMBUAT GARIS KONTUR 59
JOB 5 PROFIL MEMANJANG DAN MELINTANG 77
JOB 6 PENGENALAN THEODOLITE 116
JOB 7 PENGUKURAN POLIGON TERBUKA SISTEM STADIA 122
BAB III          PENUTUP
KESIMPULAN 130
SARAN 130

 
BAB I
PENDAHULUAN
Ilmu ukur tanah merupakan bagian kecil dari ilmu yang lebih luas, yaitu Geodesi. Geodesi sendiri memiliki dua tujuan, yaitu tujuan ilmiah dan tujuan praktis. Tujuan ilmiahnya adalah untuk menentukan bentuk permukaan bumi, sedangkan tujuan praktisnya adalah untuk membuat gambaran yang dinamakan peta, dari sebagian besar atau sebagian kecil bentuk permukaan bumi. Ilmu ukur tanah untuk jurusan sipil hanya mempelajari tujuan praktisnya saja, yaitu untuk membuat peta bagi keperluan-keperluan teknik sipil.
Maksud ini dicapai dengan melakukan pengukuran-pengukuran diatas permukaan bumi yang mempunyai bentuk tidak beraturan, karena adanya perbedaan relative muka bumi yang diklasifikasikan menjadi tiga jenis yaitu : datar, bukit, dan gunung.
Permukaan bumi yang tidak beraturan tersebut dapat diartikan sebagai suatu bidang pada ruang tiga (3) dimensi dalam suatu koordinat siku-siku ruang (X,Y, dan Z), dimana (X,Y) mewakili bidang horizontal muka bumi dan Z mewakili tinggi titik tersebut terhadap suatu titik referensi (titik nol) yang telah disepakati terlebih dahulu.
Sehingga pembuatan peta dengan kondisi lapangan sebagaimana tersebut diatas dapat digambarkan secara tepat. Sesuai dengan posisis tiga (3) dimensinya.
Berangkat dari hal tersebut, maka  melalui praktikum ilmu ukur tanah ini diharapkan praktikan dapat melakukan pengukuran X,Y dan Z pada titik-titik di permukaan bumi. Dan sekaligus dapat memberikan hasil peta serta lay out rencana dari peta yang dihasilkan tersebut untuk aplikasi teknik sipil.

BAB I
DASAR TEORI
A.    DASAR TEORI
Ø  Pengukuran jarak lurus dan datar dengan alat sederhana
Untuk menghubungkan dua buah titik dilakukan dengan membuat suatu garis. Membuat garis lurus adalah suatu faktor yang penting pada setiap kegiatan pengukuran. Hal ini berarti pengukuran harus menghasilkan angka dan tempat yang tepat. Garis tersebut biasanya di lapangan ditentukan oleh dua buah patok, jalon, pen atau tanda titik lainnya.
Sebuah garis lurus selain ditentukan oleh dua buah titik pada kedua ujungnya, masih diperlukan titik-titik perantara. Cara yang paling sederhana didalam menentukan titik-titik perantara ini adalah dengan menggunakan jalon.
Ø  Profil memanjang dan melintang
Pengukuran profil memanjang dan melintang adalah suatu cara atau metode yang digunakan untuk menentukan beda tinggi setiap titik yang ditinjau. Pengukuran ini digunakan untuk menentukan berapa volume galian yang ada dan berapa volume timbunan yang dibutuhkan untuk meratakan daerah yang ditinjau.
Ø  Garis kontur
Garis kontur adalah garis-garis yang menggambarkan tempat-tempat yang mempunyai ketinggian atau beda tinggi yang sama pada daerah yang ditinjau. Kontur biasanya digunakan pada daerah pemetaan hasil penginderaan jarak jauh. Syarat-syarat suatu kontur yaitu :


1.      Garis-garis pada kontur harus sama tebal.
2.      Tidak ada garis yang saling berpotongan.
3.      Tidak ada garis yang bercabang.

Ø  Pengukuran ( Plane Table )
         Plane Table adalah alat untuk mengukur jarak yang digunakan pada           pengukuran poligon tertutup, di mana hasil pengukuran langsung disertai dengan gambar objeknya. Pengukuran plane table biasanya digunakan untuk menghitung luas.
Ø  Poligon Terbuka
          Poligon terbuka adalah jenis pengukuran jarak untuk menentukan titik-titik koordinat.pada ujung awal poligon terbuka diperlukan suatu titik tertentu dan sudut jurusan tertentu.Supaya keadaan menjadi simetris, maka pada titik akhir dibuat titik yang tentu dan diikatkan pada jurusan yang tentu pula.
Ø  Poligon Tertutup
                 Untuk poligon tertutup dalam pengukuran mempunyai prinsip langkah kerja yang sama dengan poligon terbuka. Pada pengukuran poligon tertutup cukup diperlukan suatu titik tertentu dan sudut jurusan yang tentu pula pada awal pengukuran.Pengukuran akhir harus kembali ( menutup ) ke titik awal.







B.     PERALATAN / PERLENGKAPAN YANG DIGUNAKAN
1.      Jalon
Fungsinya :         sebagai tanda tempat titik yang telah ditinjau.

             
2.      Pen / Patok
Fungsinya :         sebagai tanda tempat titik yang telah ditinjau dan untuk memberi tanda batas jalon, dimana titik setelah diukur dan akan diperlukan lagi pada waktu lain, misalnya tanda bangunan, jalan raya, pengairan dan sebagainya.
      
3.      Nivo jalon
Fungsinya :         sebagai alat bantu untuk meluruskan dan ketegakan, berdirinya jalon yang ditancapkan.

4.      Rol meter
Fungsinya :         untuk mengukur jarak antara dua titik yang ditinjau dari suatu pengukuran.
        
5.      Waterpass tukang
Fungsinya :         sebagai alat yang digunakan untuk mengetahui kedataran atau ketegakan benang meteran.

6.      Unting-unting
Fungsinya :         sebagai alat yang digunakan  untuk menentukan titik siku-siku dan tegak suatu alat.


Fungsinya :   sebagai alat yang digunakan untuk memudahkan berdirinya jalon.


8.      Alat tulis
Fungsinya :   untuk mencatat hasil pengukuran.

9.      Bak ukur
Fungsinya :         Untuk membantu melihat pembacaan benang atas, tengah, bawah.


10.  Payung
Fungsinya :         Untuk melindungi alat waterpass dan theodolit dari sinar matahari.



11.  Tripot
      Fungsinya :  -  sebagai alat bantu pada jalon agar jalon tidak berpindah tempat. 
-     sebagai alat untuk meletakkan waterpass, dan theodolit.
                                
12.  Pesawat Waterpass
Fungsinya :         Sebagai alat optis untuk mengukur jarak dan sudut horizontal dan digunakan untuk mengetahui kedataran atau ketegakan benang meteran.

13.  Theodolit
Fungsinya : Untuk mengukur sudut atau luas di atas permukaan Bumi

theodolit_digital_1theodolite_3
Theodolit Manual                                                        Theodolit Digital





JOB I
MEMBUAT GARIS LURUS DILAPANGAN

Hari / tanggal        :     Rabu, 26 Februari 2014
Lokasi                   :     Lapangan Politeknik Negeri Ujung Pandang
Kelompok             :     3 (Tiga)
Instruktur             :     -    Ir. Efrain Bara
-          Hasmar Halim,S.T,M.T


A.           TUJUAN
·         Tujuan Umum
1.   Dapat mengetahui apa yang dimaksud suatu garis dan mengenal menggunakan alat ukur sederhana serta membuatgaris lurus dan mengukur jarak datar di lapangan.
2.   Dapat melakukan pengukuran dengan tepat dan akurat.
3.   Dapat mengetahui dan dapat mengatasi adanya kesulitan-kesulitan dalam melakukan pangukuran
4.   Dapat menjadi teliti dan hati-hati pada penggunaan alat-alat maupun pekerjaan.
5.   Dapat terampil membidik (mengincar) garis lurus ketika menancapkan jalon-jalon atau patok-patok dilapangan.
6.   Dapat mengetahui dan dapat mengatasi adanya kesukaran-kesukaran dan kekurangan-kekurangan dalam pembuatan garis lurus dilapangan.
7.   Dapat teliti, terlatih, dan kreatif dalam bekerja.

·         Tujuan Khusus
1.      Dapat melakukan pengukuran di lapangan.
2.      Dapat membuat garis urus dan mengukur jarak datar antara dua titik di lapangan.
3.      Dapat membuat jarak yang lurus dan datar antara dua titik terhadapjarak yang panjang di lapangan.
4.      Dapat memperpanjang garis lurus di lapangan.
5.      Dapat membuat garis diantara dua titik pada bangunan di lapangan.
6.      Dapat membuktikan keakuratan dalam pengukuran.
B.     DASAR TEORI
        Sebuah proyek ketekniksipilan, tentu tidak lepas dari pengukuran jarak, dan pengukuran yang dilakukan pada umumnya  adalah pengukuran jarak dalam skala besar. Berbicara mengenai pengukuran tentu berkaitan dengan pembuatan garis lurus di lapangan dengan menggunakan rol meter dan peralatan lainnya. Hal ini merupakan salah satu keterampilan dari ilmu ukur tanah.
Pemetaan objek tiga dimensi diperlukan untuk perencanaan, konstruksi, rekonstruksi, ataupun manajemenasset. Suatu objek tiga dimensi merupakan objek yang memiliki dimensi panjang, lebar ,dan tinggi yang direpresentasikan  dengan koordinat tiga dimensi (X, Y, Z). Pelaksanaan pengambilan data dalam pemetaan tiga dimensi suatu objek dapat dilakukan dengan berbagai model pemetaan yang identik dengan peralatan yang digunakan. Pada dasarnya metode-metode tersebut menghasilkan outputsuatu data koordinat tiga dimensi dansetiap peralatan yang digunakan memiliki keunggulan dan kelemahan masing-masing.
        Ada beberapa hal yang bisa kita pelajari dalam membuat garis lurus, diantaranya mngukur jarak, membuat garis tegak siku-siku, pengukuran lebar sungai, pengukuran lebar gedung daan sebagainya.
Adapun peralatan yang digunakan, yaitu:
1.      Jalon 5 buah, yaitu alat yang digunakan untuk melihat suatu kelurusan dari pengukuran
2.       Rol meter 1 buah, yaitu alat yang digunakan untuk mengukur jarak dari suatu pengukuran.
3.       Nivo, yaitu alat yang digunakan untuk melihat ketegakan dari jalon.                                         
4.       Patok / pen 5 buah, yaitu digunakan untuk menandakan titik-titik yang telah ditentukan.
5.       Statif  2  buah, yaitu  alat yang digunakan untuk memudahkan berdirinya jalon.
6.       Waterpass, yaitu alat yang digunakan untuk mengukur kedataran.
7.       Alat tulis menulis
8.      Alat pengamanan pengukur (jas lab dan helm)
D.    PETUNJUK UMUM
1.      Perhatikan dengan seksama job sheet ini dan langkah-langkah kerjanya
2.      Mengincarlah selalu dari dua posisi jalon ( kiri dan kanan )
3.      pemancangan jalon harus vertikal ( tegak lurus ) dan tepat pada titik yang telah ditentukan.
Untuk membuat jalon vertikal, dapat dilakukan dengan menggunakan nivo jalon atau waterpass tukang.
4.      Semua peralatan tidak boleh dijadikan mainan atau diletakkan di sembarang tempat.
5.      Setelah selesai, semua peralatan dikumpulkan, dibersihkan, dan dikembalikan dalam kondisi seperti semula ( saat pengambilan / peminjaman).
6.      Data hasil pengukuran lapangan agar diperiksa dan diparaf oleh instruktur



E.     LANGKAH KERJA
1.1              Membuat Garis Lurus Antara Dua Titik
a.      Pengukuran awal
1.      Tahap persiapan yaitu menyiapkan atau mengorder segala peralatan yang akan digunakan dilapangan dan gambar kerja praktikum yang akan dilaksanakan.
2.      Memasang Jalon A dan B pada masing-masing Statif dan gunakan nivo untuk menentukan kelurusan dari Jalon tersebut. kemudian tempatkan pada titik yang akan diukur jaraknya.
3.      Menancapkan Jalon C di titik sembarang dekat dengan Jalon A pada perpanjangan garis A-B. Dan berturut-turut diikuti oleh titik D dan E.
4.      Sejajarkan Jalon A hingga D dengan cara, satu orang berdiri dan membidik dibelakang Jalon A, dan salah seorang lainnya memegang  Jalon D sambil mendengarkan instruksi dari orang pertama.
5.      Sejajarkan Jalon A hingga D dengan cara, satu orang berdiri dan membidik dibelakang Jalon A, dan salah seorang lainnya memegang  Jalon D sambil mendengarkan instruksi dari orang  pertama
6.      Mengulangi langkah yang sama pada Jalon A hingga E dan A hingga B, sampai seluruh Jalon benar-benar lurus dalam satu pandang.
7.      Mengukur jarak A-C dengan menggunakan rol meter. Satu orang memegang ujung rol meter pada titik A, dengan menempatkan ujung rol meter sejajar dibagian tengah Jalon A, satu orang memegang dan menyesuaikan panjang rol meter yang terjangkau pada Jalon C dan seorang lainnya berada ditengah memegang waterpass untuk menentukan kelurusan dari rol meter tersebut sebelum dilakukan pembacaan jarak ukur.
8.      Mengulangi langkah yang sama pada Jalon C-D, D-E dan E-B.
9.      Mencatat hasil pengukuran.

b.      Pengukuran kedua
1.      Pada posisi pengukuran awal, Jalon C dipindahkan kearah Jalon A sejauh 1 m dan tetap sejajar dengan garis pengukuran A-B. Titik tersebut dinamakan C1.
2.      Jalon D dipindahkan kearah Jalon C sejauh 1 m dan tetap sejajar dengan garis pengukuran A-B. Titik tersebut dinamakan D1.
3.      Jalon E dipindahkan kearah Jalon D sejauh 1 m dan tetap sejajar dengan garis pengukuran A-B. Titik tersebut dinamakan E1
4.      Membidik kembali Jalon seperti pada prosedur pengukuran awal, untuk mendapatkan kelurusan antar-jalon.
5. Mengukur jarak A-C1 dengan menggunakan rol meter. Mengulangi langkah yang sama pada Jalon C1-D1, D1-E1 dan E1-B  
6. Mencatat hasil pengukuran.

c.       Pengukuran ketiga
1.     Pada posisi pengukuran kedua, Jalon C dipindahkan kearah Jalon D sejauh 2 m dan tetap sejajar dengan garis pengukuran A-B. Titik tersebut dinamakan C2.
2.     Jalon D dipindahkan kearah Jalon E sejauh 2 m dan tetap sejajar dengan garis pengukuran A-B. Titik tersebut dinamakan D2.
3.   Jalon E dipindahkan kearah Jalon B sejauh 2 m dan tetap sejajar dengan garis pengukuran A-B. Titik tersebut dinamakan E2.
4.   Membidik kembali Jalon seperti pada prosedur pengukuran awal, untuk mendapatkan kelurusan antar-jalon.
5.   Mengukur jarak A-C2 dengan menggunakan rol meter. Mengulangi langkah yang sama pada Jalon C2-D2, D2-E2 dan E2-B
6.   Mencatat hasil pengukuran.

d.      Pengukuran keempat
1.   Pada posisi pengukuran ketiga, Jalon D2 dihilangkan, dan Jalon C2 dan E2 disesuaikan.
2.   Meluruskan kembali semua Jalon, dengan membidik dibelakang Jalon C2 dan E2. Jika bidikan dilakukan dibelakang  Jalon C2, maka arah pandang mengarah ke Jalon A. Sebaliknya jika bidikan dilakukan dibelakang jalon E2, maka arah pandang mengarah ke Jalon B.
3.   Mengukur jarak A-C2 dengan menggunakan rol meter. Mengulangi langkah yang sama pada Jalon C2-E2, dan E2-B
4.   Mencatat hasil pengukuran.


JOB  II
MAMBUAT GARIS LURUS DILAPANGAN DENGAN RINTANGAN DAN MEMBUAT SUDUT SIKU-SIKU

Lokasi              :  Lapangan Merdeka Politeknik Negeri Ujung Pandang
Hari/Tanggal    :  Senin, 5 Maret 2014
Kelompok        :  III (Tiga)
Instruktur             :     - Ir. Efrain Bara
-  Hasmar Halim ST., MT.
A.           Tujuan
·         Tujuan Umum
1)      Mahasiswa dapat melakukan pengukuran sudut siku-siku dengan tepat dan akurat.
2)      Mahasiswa dapat mengetahui dan dapat mengatasi adanya kesulitan-kesulitan dalam melakukan pangukuran sudut siku-siku dan pengukuran jarak dengan rintangan.
3)      Mahsiswa dapat menjadi teliti dan hati-hati pada penggunaan alat-alat maupun pekerjaan.
·         Tujuan Khusus
1.      Mahasiswa  dapat melakukan pengukuran sudut siku-siku di lapangan.
2.      Mahasiswa dapat melakukan pengukuran jarak yang terhalang oleh bangunan atau rintangan.
3.      Mahasiswa dapat membuat garis sejajar di lapangan.
4.      Mahasiswa dapat membuktikan keakuratan dalam pengukuran.
B.            Dasar Teori
Membuat garis lurus dilapangan dengan membuat sudut siku-siku untuk pengukuran pada rintangan merupakan suatu keterampilan dari ilmu ukur. Pada pengukuran ini kita dapat menggunakan beberapa cara pengukuran untuk membuat sudut siku-siku diantaranya yaitu dengan menggunakan segitiga siku-siku dengan perbandingan sisinya yaitu 3 : 4 : 5 ( segitiga sebangun ), cara kedua yaitu dengan menggunakan sifat garis tinggi ke alas didalam segitiga sama kaki yang memotong
Membuat sudut siku-siku dan membuat garis lurus dilapangan dengan rintangan merupakan suatu keterampilan dari ilmu ukur yang menggunakan perbandingan sisinya ada 3 : 4 : 5, pengukuran ini biasanya digunakan untuk mengukur rintangan sungai yang menggunakan perbandingan dua buah segitiga siku-siku sebangun.
Adapun peralatan yang digunakan, yaitu:
1.             Jalon 4 buah, yaitu alat yang digunakan untuk melihat suatu kelurusan dari pengukuran.
2.             Rol meter 1 buah, yaitu alat yang digunakan untuk mengukur jarak dari suatu pengukuran.
3.             Nivo, yaitu alat yang digunakan untuk melihat ketegakan dari jalon.
4.             Patok / pen 5 buah, yaitu digunakan untuk menandakan titik-titik yang telah ditentukan.
5.             Statif  2  buah, yaitu  alat yang digunakan untuk memudahkan berdirinya jalon.
6.             Waterpass, yaitu alat yang digunakan untuk mengukur kedataran.
7.             Alat tulis menulis




D.           Petunjuk Umum
1.      Perhatikan dengan seksama job sheet ini dan langkah-langkah kerjanya
2.      Mengincarlah selalu dari dua posisi jalon ( kiri dan kanan )
3.      pemancangan jalon harus vertikal ( tegak lurus ) dan tepat pada titik yang telah ditentukan.
4.    Untuk membuat jalon vertikal, dapat dilakukan dengan menggunakan nivo jalon atau waterpass tukang.
5.      Semua peralatan tidak boleh dijadikan mainan atau diletakkan di sembarang tempat.
6.      Setelah selesai, semua peralatan dikumpulkan, dibersihkan, dan dikembalikan dalam kondisi seperti semula ( saat pengambilan / peminjaman).
7.      Data hasil pengukuran lapangan agar diperiksa dan diparaf oleh instruktur.


E.            Langkah Kerja

1.1  Mambuat Garis Lurus Dilapangan Dengan Rintangan
1.      Tahap persiapan yaitu menyiapkan segala peralatan dan perlengkapan yang akan digunakan dilapangan.
2.      Tancapkan jalon A sejajar dengan Jalon B pada posisi samping kanan gedung
3.      Tancapkan Jalon D pada sembarang titik
4.      Satu orang berdiri pada titik C membaca prisma dan menghadap ke Jalon D untuk menentukan sudut siku-siku yang dibentuk oleh titik D dan B.  prisma dipegang bersamaan dengan unting-unting, dimana unting-unting tersebut dijatuhkan pada saat Jalon B dan Jalon D dalam prisma sudah lurus, tujuannya untuk menemukan titik C.
5.      Kemudian satu orang berdiri pada titik E membaca prisma dan menghadap kearah Jalon B untuk menentukan sudut siku-siku yang dibentuk oleh titik D dan B.  prisma dipegang bersamaan dengan unting-unting, dimana unting-unting tersebut dijatuhkan pada saat Jalon B dan Jalon D dalam prisma sudah lurus, tujuannya untuk menemukan titik E.
6.      Mengukur jarak A-B, B-C, C-D, D-E, E-B.
7.      Cabut Jalon B dan C, kemudian gambit dengan patok.
8.      Tancapkan jalon J sejajar dengan Jalon I pada posisi sebelah kiri gedung
9.      Tancapkan Jalon G pada sembarang titik
10.  Satu orang berdiri pada titik H membaca prisma dan menghadap ke Jalon G untuk menentukan sudut siku-siku yang dibentuk oleh titik I dan G.  prisma dipegang bersamaan dengan unting-unting, dimana unting-unting tersebut dijatuhkan pada saat Jalon I dan Jalon G dalam pembcaan prisma sudah lurus, tujuannya untuk menemukan titik G.
11.  Kemudian satu orang berdiri pada titik F membaca prisma dan menghadap kearah Jalon I untuk menentukan sudut siku-siku yang dibentuk oleh titik G dan I.  prisma dipegang bersamaan dengan unting-unting, dimana unting-unting tersebut dijatuhkan pada saat Jalon G dan Jalon I dalam pembacaan prisma sudah lurus, tujuannya untuk menemukan titik F .
12.  Mengukur jarak J-I, I-H, H-G, G-F, F-I
13.  Satu orang membidik dibelakang Jalon G dan satu orang lainnya berada pada Jalon D untuk memegang jalon dan mendengarkn instruksi dari  orang pertama. Tujuannya untuk memastikan kelurusan Jalon G hingga Jalon D.
14.  Mencatat semua hasil pengukuran kemudian menghitung lebar gedung dari setiap pembacaan pengukuran yang telah dilakukan.
15.  Mengukur jarak D-G menggunakan rol meter dengan bantuan waterpass yang dipegang oleh satu orang untuk memastikan kelurusan setiap ujung rol meter.

F.            Hasil Pengukuran
Titik
Pengukuran Jarak (m)


AB
5,45

BC
2,23

CD
5,48

DE
2,26

BE
5,44

JI
3,32

IH
1,01

HG
5,50

GF
1,06

FI
5,47

Perhitungan :
Jarak dari titik A ke titik J
·         Jarak titik A ke gedung = 1,15 m
·         Jarak titik J ke gedung = 1,23 m
AJ = DG – (IH + JI + Jarak titik J ke gedung + Jarak titik A ke gedung + AB + BC)
= 34,61 – (1,01 + 3,32 + 1,23 + 1,15 + 5,45 + 2,23)
= 34,61 – (14,39)
= 20,22 meter
Jarak Langsung dari titik X ke titik Y (lebar gedung) = 20 meter   
1.2.Membuat Garis Lurus Dengan Menggunakan Prisma Untuk Pengukuran Jarak/Lebar Sungai
A.    Membuat garis lurus di lapangan dengan sungai
1.      Menyiapkan alat dan bahan yang akan digunakan untuk mengukur lapangan
2.      Meletakkan jalon A dan jalon B pada titik yang telah ditentukan sambil mengontrol ketegakkannya dengan menggunakan nivo jalon.





3.      Memasang patok C yang sejajar dengan titik A







4.      Seorang pengukur berdiri pada titik C mencari titik D menggunakan prisma dengan cara menghadap kearah Jalon A kemudian pengukur lainnya memegang Jalon dan mendengar arahan dari pengukur yang menggunakan prisma. Jika Jalon pada titik A dengan Jalon yang dipegang seorang pengukur telah lurus dalam prisma maka titik tempat berdirinya Jalon adalah titik D.







5.      Memasang patok F yang sejajar titik B.










6.      Seorang pengukur berdiri pada titik B mencari titik E menggunakan prisma dengan cara menghadap kearah Jalon A kemudian pengukur lainnya memegang Jalon dan mendengar arahan dari pengukur yang menggunakan prisma. Jika Jalon pada titik B dengan Jalon yang dipegang seorang pengukur telah lurus dalam prisma maka titik tempat berdirinya Jalon adalah titik E.
                  











7.       Mengukur dan mencatat jarak CD, AD, AC, BF dan EF.
             










8.       Menghitung jarak AB menggunakan menggunakan perbandingan rumus segitiga dari data-data jarak yang telah diukur.

Data Pengukuran
Titik
Jarak Pengukuran (m)
CD
2,018
AD
4,653
AC
4,103
BF
6, 287
EF
7,330


·      Jarak AB
∆ADC
∆AFE


 
 
 
 14,903

·      Jarak Optis
AB    = AF – BF
           = 14,903 – 6,287
           = 8,616 m


·      Jarak AE
∆ADC
∆AFE
 
 
 16,900 m





G.    KESIMPULAN DAN SARAN
·         Kesimpulan
(a)    Untuk membuat garis lurus di lapangan dapat digunakan beberapa cara seperti membuat garis sejajar, membuat garis tegak lurus (menggunakan rumus segitiga siku-siku atau segitiga sama kaki) dengan bantuan prisma siku-siku.
(b)   Untuk garis lurus yang melalui rintangan gedung, bila BCD dan BED siku-siku maka jarak DE sama dengan BC.
·         Saran
(a)    Untuk membuat garis tegak lurus di lapangan  dengan menggunakan rumus segitiga siku-siku atau segitiga sama kaki sebaiknya menggunakan perbandingan segitaga dengan skala kecil, misalnya pada segitigia  siku-siku ( 3 : 4 : 5 ) . Agar jarak ukur dapat dijangkau dengan rol meter dan lebih memudahkan pengukuran.
(b)   Dalam praktek atau dalam pelaksanaan dilapangan harus sesuai dengan prosedur kerja.
(c)    Membidik / mengincar jalon hendaknya dilakukan pada dua sisi jalon / bidikan kanan dan kiri.
(d)   Dengan melihat kesalahan pengukuran yang terjadi diatas maka perlu ketelitian yang lebih dalam menggunakan Pentaprisma agar hasil yang diperoleh benar dan pas.
(e)    Pada saat menarik dan membaca rollmeter harus hati – hati dan teliti sebab banyak kesalahan pengukuran terjadi akibat kesalahan dari membaca rollmeter tersebut.




 













F.        TABEL DATA PENGUKURAN
Membuat garis lurus antara dua titik dengan rol meter
Pengukuran ke-1
Bacaan
Jarak (m)
A – C
7,59
C – D
9,78
D – E
9,35
E – B
8,50
Total
35,22

Pengukuran ke-2
Bacaan
Jarak (m)
A – C
6,45
C – D
8,98
D – E
8,05
E – B
9,78
Total
35,26

Pengukuran ke-3
Bacaan
Jarak (m)
A – C
11,95
C – D
7,65
D – E
6,75
E – B
8,92
Total
35,27

Pengukuran ke-4
Bacaan
Jarak (m)
A – C
10,36
C – D
11,32
D – E
13,55
Total
35,32






















G.           KESIMPULAN DAN SARAN

1.    Kesimpulan
·         Dalam pengukuran suatu garis di lapangan harus terbentuk satu garis lurus saja, sehigga hasil pengukuran data mencapai hasil yang akurat.
·         Kekurangan yang ada dalam pengukuran yaitu membuat satu garis lurus. Untuk pengukuran tersebut dibutuhkan ketelitian dalam mengamati apakah telah membentuk garis lurus atau tidak.

2.    Saran
·         Dalam membuat garis lurus di lapangan kita harus teliti sehingga garis yang kita iginkan tercapai kelurusannya dengan baik.
·         Sebaiknya terbentuk satu garis lurus sehingga hasil pengukuran memperoleh data yang kita inginkan.
·         Dalam pekerjaan pengukuran di lapangan kita harus bekerja sama dengan baik.




JOB IV
MEMBUAT GARIS KONTUR

Lokasi                         :     Lapangan Politeknik Negeri ujung Pandang
Kelompok                   :     3 ( tiga)
Instruktur                    :    -  Ir.Efraim Bara
-       Hasmar Halim,S.T,M.T

A.    TUJUAN
1.1.  Tujuan Umum
Mahasiswa dapat terampil mengukur dan membuat peta kontur.

1.2.  Tujuan Khusus
1.      Dapat menggunakan waterpass dengan baik dan benar.
2.      Dapat menentukan elevasi titik diatas permukaan tanah dengan alat waterpass.
3.      Dapat mengetahui prosedur pembuatan peta kontur.
4.      Dapat membuat peta kontur dengan komputer

B.     DASAR TEORI
Didalam pengukuran membuat garis kontur dilapangan dimaksud untuk dapat mengetahui elevasi titik diatas permuakaan tanah dengan alat waterpass dan terampil dalam menarik garis kontur pada titik elevasi yang diperoleh dari pengukuran elevasi.
Untuk melakukan pengukuran garis kontur dengan menentukan titik pertama utnuk penempatan waterpass. Sebelum melakukan pembacaan rambu ukur terlebih dahulu tentukanlah sudut siku-siku dengan menyetel alat ukur penentuan kesikuan yang ada pada waterpass sebesar 90 derajat atau 100 grid.
Dalam pengukuran ini yang harus diperhatikan adalah ketegakkan dan kesikuan waterpass antara koordinat X dan Y dilapangan. Penempatan waterpass harus tepat pada titik yang telah ditentukan, dan lurus antar titik yang satu dengan yang lain dan pembacaannya harus teliti dan benar-benar akurat.
Untuk mendapatkan hasil yang maksimal dalam pengukuran garis kontur haruslah dengan benar-benar konsentrasi dan fokus dalam pembacaan BA, BT dan BB pada bak ukur. Apabila dalam pengukuran tanpa memperhatikan bagian-bagian alat yang berfungsi mendukung dalam ketepatan pengukuran seperti penentuan kesikuan, ketegakkan dan pembacaan rambu ukur maka akan terjadi suatu kesalahan dari hasil pengukuran.
Apabila didalam pengukuran pembuatan garis kontur dengan menggunakan alat dengan fungsinya masing-masing sesuai dengan contoh yang diberikan oleh instruktur pembimbing dan dosen maka pengukuran data akan memperoleh hasil yang maksimal.
Peralatan yang diperlukan:
1.      Rol meter untuk mengukur jarak antara titik tempat menancapkan patok /pen dan kelurusan dari titik yang satu dengan yang lain.
2.      Pesawat waterpass berfungsi untuk membidik atau membaca BA,BT dan BB terhadap bak ukur.
3.      Bak ukur yaitu sebagai tempat pembacaan ukuran BA,BT dan BB dari waterpass.
4.      Unting-unting untuk menentukan AS pada titik yang telah di tentukan sebagai tempat  waterpas.
5.      Nivo untuk menentukan ketegakan bak ukur.
6.      Kaki tiga/tripoid/statif berfungsi sebagai tempat waterpass dan sebagai penentu ketepatan titik atau asas dengan unting-unting.
7.      Patok /pen digunakan untuk menandai tempat atau jarak yang telah diukur dan sebagai tempat untuk mendirikan bak ukur.
8.      Payung digunakan untuk melindungi waterpas dari sinar matahari pada saat melakukan pembacaaan rambu ukur.
9.       Helm untuk pelindung kepala
10.  Alat Tulis untuk mencatat hasil pengukuran

C.    LANGKAH KERJA
                     1.         Siapkan semua alat yang akan digunakan dalam pengukuran ini.
                     2.         Tempatkan titik awal pengukuran (0,0) berupa titik pusat koordinat X,Y. Selanjutnya ukur jarak lurus dari titik (0,0) kearah X sepanjang 20 m dan beri patok disetiap 5 m, kemudian kontrol dengan waterpass kelurusan garis di patok yang dipasang.
                     3.         Setelah itu ukur jarak lurus dari titik (0,0) kearah Y sepanjang 25 m, dan beri patok di setiap 5m, kemudian control dengan waterpass kelurusan garis di patok yang di pasang.
                     4.         Dirikan statif pada titik A (0,0) dan pasang pesawat dengan benar. Cek ketegakan alat dengan menyetel nivo pada pesawat dan jangan lupa untuk mengatur sudut sesuai ketentuan.
                     5.         Ukur dan catat ketinggian alat. Hal ini berlaku setiap waterpass berpindah titik.
                     6.         Kemudian orang pertama membidik bak ukur pada titik A1 dan catat hasil pengukuran BA, BT dan BB selanjutnya dengan cara yang sama bidik A2,A3, A4, A5 dan catat hasilnya.
                     7.         Setelah pengukuran di titik Y selesai, putar alat ke arah X sebesar 100 grid. Bidik ke titik B lalu catat hasil pembacaan BA,BT,BB.
                     8.         Setelah itu catat hasil pembacaan BA, BB dan BT  dengan cara yang sama pada titik X dan di lakukan pada titik C,D,E, dan F.
                     9.         Pindahkan pesawat pada titik B kemudian orang kedua membidik ke titik A(0,0) sebelum membaca ke arak titik (B1) dan catat pembacaan BA, BT, BB, setelah itu arahkan ke titik (B1) kemudian selanjutnya ukur jarak pada setiap 5m dan tentukan titiknya (B1 , B2, B3, B4, B5). Lakukan pembacaan BA, BT, BB pada tiap titik.
                   10.       Bidik ke titik C, putar sebanyak 100 grid, lakukan pembacaan BA,BT,BB dan catat datanya.
                   11.       Pindahkan pesawat pada titik C kemudian orang kedua membidik ke titik B sebelum membaca ke arak titik (C1) dan catat pembacaan BA, BT, BB, setelah itu arahkan ke titik (C1) kemudian selanjutnya ukur jarak pada setiap 5m dan tentukan titiknya (C1, C2, C3, C4, C5). Lakukan pembacaan BA, BT, BB pada tiap titik.
                     12.       Bidik ke titik D, putar sebanyak 100 grid, lakukan pembacaan BA,BT,BB dan catat datanya.
                   13.       Pindahkan pesawat pada titik D kemudian orang kedua membidik ke titik C sebelum membaca ke arak titik (D1) dan catat pembacaan BA, BT, BB. Setelah itu arahkan ke titik (D1) dengan memutar alat searah jarum jam sebanyak 100 grid kemudian selanjutnya ukur jarak pada setiap 5m dan tentukan titiknya (D1, D2, D3, D4, D5). Lakukan pembacaan BA, BT, BB pada tiap titik.
                     14.       Bidik ke titik E, putar sebanyak 100 grid, lakukan pembacaan BA,BT,BB dan catat datanya.
                   15.       Pindahkan pesawat pada titik E kemudian orang kedua membidik ke titik D sebelum membaca ke araH titik (D1) dan catat pembacaan BA, BT, BB, setelah itu arahkan ke titik (D1) dengan memutar alat searah jarum jam sebanyak 100 grid kemudian selanjutnya ukur jarak pada setiap 5m dan tentukan titiknya (D1, D2, D3, D4, D5). Lakukan pembacaan BA, BT, BB pada tiap titik.
                     16.     Selanjutnya data-data hasil pembidikan di olah untuk mendapatkan beda tinggi, elevasi dan jarak optis tiap titik koordinat.
                   17.       Setelah selesai, semua peralatan dikumpulkan, dibersihkan, dan dikembalikan dalam kondisi seperti semula (saat pengembalian/ peminjaman)








D.    DATA HASIL PENGUKURAN

POSISI ALAT & TINGGI ALAT (m)
TITIK TARGET
PEMBACAAN BENANG (m)
JARAK (m)
BEDA TINGGI (M)
Elevasi
BA
BT
BB
UKUR
OPTIS
BM
    23,000

B
1,525
1,500
1,476
5,000
4,900
-0,070
22,93

C
1,600
1,550
1,343
10,000
25,700
-0,120
22,810

D
1,690
1,418
1,344
15,000
34,600
0,012
22,822
A
E
1,780
1,457
1,360
20,000
42,000
-0,027
22,795
1,430
A1
1,474
1,450
1,425
50,000
4,900
-0,020
22,775

A2
1,541
1,491
1,441
10,000
10,000
-0,061
22,714

A3
1,599
1,521
1,491
15,000
10,800
-0,091
22,623

A4
1,662
1,562
1,462
20,000
20,000
-0,132
22,491

A5
1,690
1,569
1,441
25,000
24,900
-0,139
22,352

A
1,352
1,329
1,306
5,000
4,600
0,051
22,403

B1
1,449
1,425
1,402
5,000
4,700
-0,045
22,358
B
B2
1,532
1,485
1,432
10,000
10,000
-0,105
22,253
1,380
B3
1,575
1,502
1,425
15,000
15,000
-0,122
22,131

B4
1,635
1,545
1,442
20,000
19,300
-0,165
21,966

B5
1,640
1,515
1,390
25,000
25,000
-0,135
21,831

C
1,472
1,448
1,424
5,000
4,800
-0,068
21,763

B
1,289
1,265
1,240
5,000
4,900
0,275
22,038

C1
1,390
1,367
1,342
5,000
4,800
0,173
22,211
C
C2
1,430
1,382
1,331
10,000
9,900
0,158
22,369
1,540
C3
1,492
1,420
1,345
15,000
14,700
0,120
22,489

C4
1,569
1,469
1,370
20,000
19,900
0,071
22,560

C5
1,625
1,501
1,378
25,000
24,700
0,039
22,599

D
1,404
1,380
1,355
5,000
4,900
0,160
22,759







C
1,352
1,328
1,303
5,000
4,900
0,292
23,051
D
D1
1,455
1,431
1,408
5,000
4,700
0,189
23,240
1,620
D2
1,521
1,474
1,424
10,000
9,700
0,146
23,386

D3
1,580
1,506
1,431
15,000
14,900
0,114
23,500

D4
1,655
1,556
1,460
20,000
19,500
0,064
23,564

D5
1,675
1,550
1,429
25,000
24,600
0,070
23,634

E
1,437
1,433
1,429
5,000
0,800
0,187
23,821

D
1,395
1,370
1,345
5,000
5,000
0,090
23,911
E
E1
1,525
1,500
1,475
5,000
5,000
-0,040
23,871
1,460
E2
1,585
1,540
1,485
10,000
10,000
-0,080
23,791

E3
1,605
1,530
1,455
15,000
15,000
-0,070
23,721

E4
1,660
1,560
1,460
20,000
20,000
-0,100
23,621

E5
1,670
1,545
1,420
25,000
25,000
-0,085
23,536

Kontrol:
1.        Menghitung Jarak Optis
Rumus untuk menghitung jarak analisa:

D= (BA-BB)x100
 
                                                       Dimana:
                                                       D = Jarak (meter)
                                                       BA = Benang Atas (meter)
BB = Benang Bawah (meter)
a.       Dari Titik A
·         Dari titik A ke titik B
D = (1,525 - 1,476) x 100 = 4,900
·         Dari titik A ke titik C
D = (1,600 - 1,343) x 100 = 25,700
·         Dari titik A ke titik D
D = (1,690 - 1,344) x 100 = 34,600
·         Dari titik A ke titik E
D = (1,780 - 1,360) x 100 = 42,000
·         Dari titik A ke titik A1
D = (1,474 - 1,425) x 100 = 4,900

·         Dari titik A ke titik A2
D = (1,541 - 1,441) x 100 = 10,000
·         Dari titik A ke titik A3
D = (1,599 - 1,491) x 100 = 10,800
·         Dari titik A ke titik A4
D = (1,662 - 1,462) x 100 = 20,000
·         Dari titik A ke titik A5
D = (1,690 – 0,441) x 100 = 124,900
b.      Dari titik B
·         Dari titik B ke titik A
D = (1,352 - 1,306) x 100 = 4,600
·         Dari titik B ke titik B1
D = (1,449 - 1,402) x 100 = 4,700
·         Dari titik B ke titik B2
D = (1,532 - 1,432) x 100 = 10,000
·         Dari titik B ke titik B3
D = (1,575 - 1,425) x 100 = 15,000
·         Dari titik B ke titik B4
D = (1,635 - 1,442) x 100 = 19,300
·         Dari titik B ke titik B5
D = (1,640 - 1,390) x 100 = 25,000
·         Dari titik B ke titik C
D = (1,472 - 1,424) x 100 = 4,800
c.       Dari titik C
·         Dari titik C ke titik B
D = (1,289 - 1,240) x 100 = 4,900
·         Dari titik C ke titik C1
D = (1,390 - 1,342) x 100 = 4,800
·         Dari titik C ke titik C2
D = (1,430 - 1,331) x 100 = 9,900
·         Dari titik C ke titik C3
D = (1,492 - 1,345) x 100 = 14,700
·         Dari titik C ke titik C4
D = (1,569 - 1,370) x 100 = 19,900
·         Dari titik C ke titik C5
D = (1,625 - 1,378) x 100 = 24,700
·         Dari titik C ke titik D
D = (1,404 - 1,355) x 100 = 4,900
d.      Dari titik D
·         Dari titik D ke titik C
D = (1,352 - 1,303) x 100 = 4,900
·         Dari titik D ke titik D1
D = (1,455 - 1,408) x 100 = 4,700
·         Dari titik D ke titik D2
D = (1,521 - 1,424) x 100 = 9,700
·         Dari titik D ke titik D3
D = (1,580 - 1,431) x 100 = 14,900
·         Dari titik D ke titik D4
D = (1,655 - 1,460) x 100 = 19,500
·         Dari titik D ke titik D5
D = (1,675 - 1,429) x 100 = 24,600
·         Dari titik D ke titik E
D = (1,437 - 1,429) x 100 = 800
e.       Dari titik E
·         Dari titik E ke titik D
D = (1,395 - 1,345) x 100 = 5,000
·         Dari titik E ke titik E1
D = (1,525 - 1,475) x 100 = 5,000
·         Dari titik E ke titik E2
D = (1,585 - 1,485) x 100 = 10,000
·         Dari titik E ke titik E3
D = (1,605 - 1,455) x 100 = 15,000
·         Dari titik E ke titik E4
D = (1,660 - 1,460) x 100 = 20,000
·         Dari titik E ke titik E5
D = (1,670 - 1,420) x 100 = 25,000

2.        Menghitung Beda Tinggi

∆H = 
 
Dimana:
                                                       ∆H = Beda Tinggi (meter)
                                                       BT = Benang Tengah (meter)

a.       Dari titik A
·         ∆HAB = i – BT
= 1,430 – 1,500
= -0,070
·         ∆HAC = i – BT
= 1,430 – 1,550
= -0,120
·         ∆HAD = i – BT
= 1,430 – 1,418
= 0,012
·         ∆HAE = i – BT
= 1,430 – 1,457
= -0,027
·         ∆HAA1 = i – BT
= 1,430 – 1,450
= -0,020
·         ∆HAA2 = i – BT
= 1,430 – 1,491
= -0,061
·         ∆HAA3 = i – BT
= 1,430 – 1,521
= -0,091
·         ∆HAA4 = i – BT
= 1,430 – 1,562
= -0,132

·         ∆HAA5 = i – BT
= 1,430 – 0,596
= 1,492

b.      Dari titik B
·         ∆HBA = i – BT
= 1,430 – 1,329
= 0,051
·         ∆HBB1 = i – BT
= 1,430 – 1,425
= -0,045
·         ∆HBB2 = i – BT
= 1,430 – 1,485
= -0,105
·         ∆HBB3 = i – BT
= 1,430 – 1,502
= -0,122
·         ∆HBB4 = i – BT
= 1,430 – 1,545
= -0,165
·         ∆HBB5 = i – BT
= 1,430 – 1,515
= -0,135

·         ∆HBBC = i – BT
= 1,430 – 1,448
= -0,068

c.       Dari titik C
·         ∆HCB = i – BT
= 1,430 – 1,265
= 0,275
·         ∆HCC1 = i – BT
= 1,430 – 1,367
= 0,173
·         ∆HCC2 = i – BT
= 1,430 – 1,382
= 0,158
·         ∆HCC3 = i – BT
= 1,430 – 1,420
= 0,120
·         ∆HCC4 = i – BT
= 1,430 – 1,469
= 0,071
·         ∆HCC5 = i – BT
= 1,430 – 1,501
= 0,039
·         ∆HCD = i – BT
= 1,430 – 1,380
= 0,160
d.      Dari titik D
·         ∆HDC = i – BT
= 1,430 – 1,382
= 0,292

·         ∆HDD1= i – BT
= 1,430 – 1,431
= 0,189
·         ∆HDD2 = i – BT
= 1,430 – 1,474
= 0,146
·         ∆HDD3 = i – BT
= 1,430 – 1,506
= 0,114
·         ∆HDD4 = i – BT
= 1,430 – 1,556
= 0,064
·         ∆HDD5 = i – BT
= 1,430 – 1,550
= 0,070
·         ∆HDE = i – BT
= 1,430 – 1,433
= 0,187

e.       Dari titik E
·         ∆HED = i – BT
= 1,430 – 1,370
= 0,090
·         ∆HEE1 = i – BT
= 1,430 – 1,500
= -0,040
·         ∆HEE2 = i – BT
= 1,430 – 1,540
= -0,080         


·         ∆HEE3 = i – BT
= 1,430 – 1,530
= -0,070
·         ∆HEE4 = i – BT
= 1,430 – 1,560
= -0,100
·         ∆HEE5 = i – BT
= 1,430 – 1,545
= -0,085

3.        Elevasi
a.       Dari titik A
·         Elevasi B   = BM + ∆HAB
                         = +23,000 + (-0,070)
                         = +22,930 meter
·         Elevasi C   = El B + ∆HAC
                         = +22,930 + (-0,120)
                         = +22,810 meter
·         Elevasi D   = El C + ∆HAD
                         = +22,810 + (0,012)
                         = +22,822 meter
·         Elevasi E   = El D + ∆HAE
                         = +22,822 + (-0,027)
                         = +22,795 meter
·         Elevasi A1 = El E + ∆HAA1
                         = +22,795 + (-0,020)
                         = +22,775 meter
·         Elevasi A2 = El A1 + ∆HAA2
                         = +22,775 + (-0,061)
                         = +22,714 meter

·         Elevasi A3 = El A2 + ∆HAA3
                         = +22,714 + (-0,091)
                         = +22,632 meter
·         Elevasi A4 = El A3 + ∆HAA4
                         = +22,632 + (-0,132)
                         = +22,491 meter
·         Elevasi A5 = El A4 + ∆HAA5
                         = +22,491 + (-0,139)
                         = +22,352 meter
b.      Dari titik B
·         Elevasi A   = El A5 + ∆HBA
                         = +22,352 + 0,051
                         = +22,403 meter
·         Elevasi B1 = El A + ∆HBB1
                         = +22,403 + (-0,045)
                         = +22,358 meter
·         Elevasi B2 = El B1 + ∆HBB2
                         = +22,358 + (-0,105)
                         = +22,253 meter
·         Elevasi B3 = El B2 + ∆HBB3
                         = +22,253 + (-0,122)
                         = +22,131 meter
·         Elevasi B4 = El B3 + ∆HBB4
                         = +22,131 + (-0,165)
                         = +22,966 meter
·         Elevasi B5 = El B4 + ∆HBB5
                         = +22,966 + (-0,135)
                         = +22,831 meter
·         Elevasi C   = El B5 + ∆HBC
                         = +22,831 + (-0,068)
                         = +22,763 meter
c.       Dari titik C
·         Elevasi B   = El C + ∆HCB
                         = +22,763 + 0,275
                         = +22,038 meter
·         Elevasi C1 = El B + ∆HCC1
                         = +22,038 + 0,173
                         = +22,211 meter
·         Elevasi C2 = El C1 + ∆HCC2
                         = +22,211 + 0,158
                         = +22,369 meter
·         Elevasi C3 = El C2 + ∆HCC3
                         = +22,369 + 0,120
                         = +22,489 meter
·         Elevasi C4 = El C3 + ∆HCC4
                         = +22,489 + 0,071
                         = +22,560 meter
·         Elevasi C5 = El C4 + ∆HCC5
                         = +22,560 + 0,039
                         = +22,599 meter
·         Elevasi D   = El C5 + ∆HCD
                         = +22,599 + 0,160
                         = +22,759 meter

d.      Dari titik D
·         Elevasi C   = El D + ∆HDC
                         = +22,759 + 0,292
                         = +23,051 meter
·         Elevasi D1 = El C + ∆HDD1
                         = +23,051 + 0,189
                         = +23,240 meter

·         Elevasi D2 = El D1 + ∆HDD2
                         = +23,240+ 0,146
                         = +23,386 meter
·         Elevasi D3 = El D2 + ∆HDD3
                         = +23,386 + 0,114
                         = +23,500 meter
·         Elevasi D4 = El D3 + ∆HDD4
                         = +23,500 + 0,064
                         = +23,564 meter
·         Elevasi D5 = El D4 + ∆HDD5
                         = +23,564 + 0,070
                         = +23,634 meter
·         Elevasi E   = El D5 + ∆HDE
                         = +23,634 + 0,187
                         = +23,821 meter

e.       Dari titik E
·         Elevasi D   = El E + ∆HED
                         = +23,821 + 0,090
                         = +23,911 meter
·         Elevasi E1 = El D + ∆HEE1
                         = +23,911 + (-0,040)
                         = +23,871 meter
·         Elevasi E2 = El E1 + ∆HEE2
                         = +23,871+ (-0,080)
                         = +23,791 meter
·         Elevasi E3 = El E2 + ∆HEE3
                         = +23,791 + (-0,070)
                         = +23,721 meter


·         Elevasi E4 = El E3 + ∆HEE4
                         = +23,721 + (-0,100)
                         = +23,621 meter
·         Elevasi E5 = El E4 + ∆HEE5
                         = +23,621 + (-0,085)
                         = +23,536 meter

E.     SKETSA KONTUR
FFDD.png






F.     KESIMPULAN DAN SARAN
1.        Kesimpulan
Setelah mempraktekkan job Membuat Garis Kontur ini, kita mampu dan dapat semakin terampil menggunakan alat sipat datar setelah pada job sebelumnya sudah mempraktekkan pengoperasian alat.

2.        Saran
Pada saat melakukan kegiatan praktikum usahakan agar selalu berkonsentrasi agar data hasil pengukuran tepat dan dapat diolah dengan baik pada saat perhitungan.
















Tiada ulasan:

Catat Ulasan